Pacitan, Jatim Revolosinews.com - ; Terik panas matahari siang sekira pukul 12.45 WIB seolah tidak sanggup menahan langkah kaki Rangga. Bocah kecil dengan nama lengkap Rangga Rahardian itu sesekali menyeka peluh setelah kakinya menanjaki bebukitan yang memiliki kemiringan nyaris 76 derajat dengan jalanan berdebu. Hampir setiap siang hari, ia harus memeras keringat untuk menghitung langkah mengukur punggung bukit sekira hampir 2 kilometer. Entah bagaimana pula jalan itu rupa lumpur nya saat penghujan. Tanah lengket kekuning² an.
"Le, kamu mau kemana. Ini pergi opo pulang sekolah," tanya seorang pewarta media. "Lha, kok panas-panas begini jalan. Emang tidak ada yang jemput hari ini?" sambungnya.
"Sampun (sudah) biasa jalan begini. Kakung (kakek) kalau siang nyari rumput. Kalau pagi bisa antar," jawab Rangga sambil menyeka keringat yang berebut meluruh di sekujur tubuhnya.
"Kok kakung?" tanya pewarta.
"Iya, ayah kerja di Jakarta," masih dengan nafas terengah.
"Ayo sini, ikut sepeda saya. Kebetulan saya mau ke arah jembatan yang sedang di bangun," ajak pewarta
"Mboten pak, terimakasih."
"Udah ayo ikut ... " setengah memaksa.
Bocah yang mandi keringat itu pun menurut. "Kamu kelas berapa, to?"
"Kelas 6 SD Sambong 1", jawabnya. Melamun, tercenung. Disergap kenyataan.
Riuh rendah dan hiruk pikuk ulang tahun Kemerdekaan yang ke-81, entah masih berapa banyak Rangga² Rahardian lain yang harus memanjat bebukitan berdebu hanya untuk sekolah. Juga ribuan siswa siswi lain yang rela bertaruh nyawa bergelantungan jembatan kawat untuk bersekolah.
Bocah sederhana itu barangkali belum paham tentang penjajahan dan kemerdekaan. Ia tidak tahu berkilo² emas dan ratusan miliar uang negara nyantol di brangkas² gelap pejabat korup. Bahkan oleh mereka yang diberi tugas oleh undang undang dan negara untuk menjaga dan menegakkan hukum. Sumber Daya Alam bumi pertiwi dikeruk tangan² hitam penuh syahwat angkara. Rangga Rahardian hanya berharap jalan menuju sekolahnya tidak berdebu dan berlumpur. Ayahnya bisa mendapatkan pekerjaan di daerah agar bisa menemaninya pulang pergi sekolah. Sederhana, tidak muluk-muluk.
Bendera merah putih melambai lemah, malu-malu tertiup angin sore di puncak Sambong, Pacitan utara sore itu.(Hb)


0 Komentar