Header Ads Widget


 

Menakar Kinerja Jaringan Irigasi Rejoso: Antara Potensi Bendungan Semantok dan Realita di Lapangan


Oleh: Fitriyanti Cahya Ningrum
NGANJUK 𝚁𝚎𝚟𝚘𝚕𝚘𝚜𝚒𝚗𝚎𝚠𝚜 – Kehadiran Bendungan Semantok di Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur, digadang-gadang menjadi solusi jangka panjang bagi ketahanan pangan nasional. Sebagai bendungan terbesar di Jawa Timur dengan kapasitas tampungan mencapai 32,67 juta m³, infrastruktur ini diharapkan mampu menjamin stabilitas pasokan air bagi ribuan hektare lahan pertanian, termasuk di Daerah Irigasi (D.I) Rejoso. 

 hasil evaluasi lapangan terbaru pada hari minggu 17/5/2016 mengungkap adanya kesenjangan antara potensi sumber air yang melimpah dengan efektivitas distribusi air di tingkat petani. Sebuah kajian teknis menunjukkan bahwa infrastruktur di hilir memerlukan perhatian serius agar manfaat bendungan raksasa ini benar-benar terasa hingga ke petak sawah. 

Skor Kinerja: "Memerlukan Perhatian"

Berdasarkan penilaian menggunakan metode Indeks Kinerja Sistem Irigasi (IKSI) yang mengacu pada standar Peraturan Menteri PUPR No. 12/PRT/M/2015, kinerja jaringan irigasi D.I Rejoso mendapatkan nilai akhir sebesar 64,3%. Angka ini menempatkan kondisi irigasi di wilayah tersebut dalam kategori "Kinerja Kurang dan Memerlukan Perhatian". 

Rendahnya nilai kinerja ini dipicu oleh beberapa aspek non-fisik yang sering terlupakan, di antaranya:

Aspek Dokumentasi (2,85%): Kurangnya kelengkapan data teknis dan pembaruan skema jaringan yang menghambat perencanaan pemeliharaan. 

Kelembagaan P3A (4,20%): Peran Perkumpulan Petani Pemakai Air dinilai belum optimal, terutama dalam hal kemandirian iuran perbaikan dan partisipasi rutin dalam menjaga saluran. 

Sarana Penunjang (4,66%): Minimnya fasilitas pendukung untuk operasional petugas di lapangan. 
Ancaman Sedimentasi dan Kapasitas Saluran




Selain faktor manajemen, kendala teknis di lapangan menjadi tantangan besar. Saluran sekunder dan tersier di wilayah Rejoso Kiri dan Jati mengalami penurunan fungsi akibat penumpukan sedimen (endapan lumpur), sampah, serta kerusakan fisik pada dinding saluran yang mulai jebol. 

Yang cukup mengejutkan, hasil evaluasi teknis menemukan bahwa saluran tersier eksisting saat ini hanya mampu mengalirkan air sebesar 0,0058 m³/detik. Padahal, kebutuhan debit rencana untuk mengaliri sawah petani secara optimal mencapai 0,077 m³/detik.  Ketimpangan ini menjelaskan mengapa distribusi air seringkali tidak merata meski bendungan dalam kondisi penuh.

Solusi Strategis: Redesain dan Sinergi

Sebagai solusi konkret, kajian ini merekomendasikan perencanaan ulang (redesain) pada saluran tersier yang mengalami kerusakan. Penggunaan konstruksi pasangan batu kali dengan dimensi yang lebih lebar (lebar bawah 0,55 m dan tinggi total 0,50 m) mampu meningkatkan kapasitas alir hingga 0,085 m³/detik. Kapasitas ini dinilai aman untuk memenuhi kebutuhan air tanaman padi dan palawija di wilayah tersebut. 

Namun, perbaikan fisik hanyalah satu sisi mata uang. Sisi lainnya adalah penguatan kapasitas petani. Pembinaan rutin bagi organisasi petani (P3A) menjadi sangat krusial agar mereka lebih mandiri dalam memelihara saluran tersier. 

Sinergi antara pemerintah daerah, pengelola bendungan, dan masyarakat petani adalah kunci utama. Jangan sampai kemegahan Bendungan Semantok hanya berhenti sebagai monumen infrastruktur, melainkan harus benar-benar menjadi urat nadi yang mengalirkan kesejahteraan hingga ke ujung saluran sawah petani Nganjuk.(Irno)

---

Posting Komentar

0 Komentar