Nganjuk,Revolosinews.com - Upaya nguri-nguri budaya atau melestarikan tradisi leluhur terus dijaga oleh masyarakat Jawa dari generasi ke generasi. Tradisi yang telah mengakar kuat ini menjadi bagian penting dalam kehidupan sosial dan spiritual masyarakat, sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur sekaligus mempererat tali persaudaraan antarwarga.
Seperti halnya yang dilaksanakan oleh warga Desa Kendalrejo, Kecamatan Bagor, Kabupaten Nganjuk, pada Kamis (16/4/2026). Kegiatan tradisi yang dikenal dengan sebutan nyadranan atau bersih desa ini berlangsung khidmat dan penuh makna, dengan rangkaian acara yang diikuti oleh seluruh elemen masyarakat.
Sejak pagi hari, tepatnya pukul 06.00 WIB, kegiatan diawali dengan khotmil Qur’an yang dilaksanakan hingga selesai. Suasana religius sangat terasa, dengan lantunan ayat suci Al-Qur’an yang menggema, menjadi pembuka rangkaian kegiatan yang sarat nilai spiritual.
Memasuki sore hari, sekitar pukul 16.00 WIB, warga melanjutkan kegiatan dengan doa tahlil bersama yang dilaksanakan di makam ahli waris masing-masing. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh warga Desa Kendalrejo, sebagai bentuk penghormatan dan doa kepada para leluhur yang telah mendahului.
Pada malam harinya, tepat pukul 19.30 WIB, seluruh warga kembali berkumpul di pendopo balai desa untuk mengikuti doa bersama. Warga dari berbagai dusun tampak antusias hadir, menciptakan suasana kebersamaan yang hangat dan penuh kekeluargaan.
Turut hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Desa Kendalrejo, Wahyu Utomo, beserta perangkat desa, tokoh agama, dan tokoh masyarakat. Dalam sambutannya, Kepala Desa Wahyu Utomo menyampaikan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas limpahan rahmat dan karunia-Nya, sehingga masyarakat dapat kembali melaksanakan kegiatan rutin bersih desa ini.
“Pada malam hari ini kita berkumpul untuk berdoa bersama melalui doa tahlil. Semoga arwah para leluhur dan orang tua kita mendapatkan ampunan dari Allah SWT atas segala kesalahan dan kekhilafan semasa hidupnya,” ujar Wahyu Utomo dalam sambutannya.
Ia juga menegaskan bahwa tradisi nyadranan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan memiliki makna mendalam sebagai sarana introspeksi diri, memperkuat nilai gotong royong, serta menjaga kearifan lokal yang menjadi identitas masyarakat.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan generasi muda dapat terus mengenal, memahami, dan melestarikan tradisi budaya warisan leluhur. Sehingga nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya tetap hidup dan tidak tergerus oleh perkembangan zaman.
Tradisi nyadranan di Desa Kendalrejo pun menjadi bukti nyata bahwa budaya lokal masih terjaga dengan baik, serta menjadi perekat kebersamaan masyarakat dalam kehidupan sehari-hari.(Irno)


0 Komentar